OPT KATEGORI PATOGEN
Oranisme Pengganggu Tumbuan (OPT) pada Tanaman
Tomat
Ralstonia solanacearum
Nama Ilmiah : Ralstonia solanacearum
Nama
Umum : Penyakit
darah (oleh bakteri Pseudomonas sp. Nr solanacearum)
Nama Bahasa Indonesia : Penyakit Layu bakteri
(Penyakit Darah)
·
Nama Bahasa Inggris : Moko
Desease
Klasifikasi dari ITIS
atau GBIF Data Portal
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom : Bakteri
Filum : Proteobacteria
Kelas : Beta
Proteobacteria
Ordo : Burkholderiales
Family : Ralstoniaceae
Genus : Ralstonia
Spesies : Ralstonia solanacearum
Deskripsi
Patogen
R. solanacearum adalah spesies yang sangat kompleks. Hal
ini disebabkan oleh variabilitas genetiknya yang luas dan kemampuannya untuk
beradaptasi dengan lingkungan setempat, sehingga di alam dijumpai berbagai
strain R. solanacearum dengan ciri yang sangat beragam.
Ditinjau dari segi morfologi dan fisiologinya, R. solanacearum merupakan
bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan ukuran 0,5-0,7 x 1,5-2,5 μm,
berflagela, bersifat aerobik, tidak berkapsula, serta membentuk koloni
berlendir berwarna putih (Tim Penulis Penebar Swadaya,
· Pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang)
2003 dalam Anonim,
2010). Bakteri ini menginfeksi akar tanaman melalui luka yang terjadi secara
tidak langsung pada waktu proses pemindahan tanaman maupun luka akibat tusukan
nematoda akar, dan secara langsung masuk ke dalam bulu akar/akar yang sangat
muda dengan melarut dinding sel. Infeksi secara langsung lebih banyak terjadi
jika populasi bakteri di tanah terdapat dalam jumlah yang tinggi (Semangun,
1988 dalam Anonim 2010). R. solanacearummerupakan patogen tular
tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian,
dan tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996). Kemampuan bakteri tanah bertahan
hidup diduga sangat bergantung pada keberadaan tanaman inang.
Ralstonia solanacearum menghasilkan
polisakarida extraseluler (Extracelluler polysaccharide=EPS). Produksi EPS
mempunyaiperanan penting dalampatogenisitas dan virulensi bakteri patogen
tanaman. Senyawa ini mempengaruhi kondisi ruang natar sel dalam tanaman
sehingga cocok untuk perkembangan bakteri. Peranan EPS dalam infeksi
patogen dan inang telah dilaporkan anatara lain: mencegah pengenalan bakteri
pada tanaman inang, perubahan penggunaan karbohidrat dan membatasi pergerakan
air. Bakteri ini juga mensekresikan enzim-enzim perombak dinding sel (termasuk
poligalakturonase), tetapi enzim endoglukanase disekresikan 200 kali lebih
banyak dibanding enzim-enzim tersebut. R. solanacearum juga menghasilkan zat
pengatur tumbuh berupa IAA, ABA dan etilen (Abazar,2004).
Ralstonia solanacearum adalah
salah satu bakteri patogen tumbuhan yang paling merugikan. Patogen ini
meyebabkan penyakit pada lebih dari 200 spesies dalam lebih dari 50 famili
tanaman terutama Solanaceae. Serangan patogen ini secara nyata
dapat menurunkan produksi dan kualitas hasil. Bakeri ini tersebar di daerah
tropik, sub tropik maupun temperate/dingin. Di daerah tropis patogen ini
berkembang dengan subur karena keberadaan inang sepanjang tahun. Di daerah
temperate dimana tanaman inang tidak selalu ada, patogen ini menjadi penting
(terutama pada kentang) lebih karena status karantinanya bukan karena kerusakan
yang ditimbulkannya.
Ralstonia solanacearum adalah profil
alien patogen tinggi tanaman status Karantina A2 mempengaruhi rentang yang
sangat luas tanaman. Ini berarti bahwa itu hadir di beberapa bagian Eropa
tetapi di bawah kontrol hukum. Di seluruh dunia, tanaman yang paling
penting terkena adalah: Kentang, Tomat, Tembakau, Pisang dan Geranium. Di
Inggris dan negara Eropa lainnya tanaman yang paling terkena adalah penting
kentang dan tomat. Ini akan menyebabkan kerusakan ekonomi yang serius yang
ia menjadi lebih mapan daripada saat ini. Kerugian disebabkan penurunan
hasil aktual dan juga karena langkah-langkah yang diambil statutary untuk
menghilangkan penyakit.
Gejala dan Tanda Penyakit
Gejala awal
yang ditimbulkan pada tanaman yang terserang bakteri ini adalah tanaman mulai
layu. Kemudian menjalar ke daun bagian bawah. Gejala yang lebih lanjut :
seluruh tanaman layu, daum menguning sampai coklat kehitam-hitaman, dan
akhirnya tanaman mati. Serangan pada umbi menimbulkan gejala dari luar tampak
bercak-bercak kehitam-hitaman, terdapat lelehan putih keruh (massa bakteri)
yang keluar dari mata tunas atau ujung stolon. Adanya daun muda pada pucuk dan
daun tua tanaman akan menjadi layu, daun bagian bawah menguning merupakan ciri
khas gejala penyakit layu bakteri.
Bakteri
menyerang pembuluh batang melalui akar dan mengeluarkan zat beracun hingga
pembuluh tersebut mengeluarkan cairan berwarna merah seperti kecap/darah.
Apabila pada batang terdapat luka, maka cairan merah akan keluar melalui luka
tersebut. Adakalanya cairan keluar bersamaan dengan keluarnya jantung pisang.
Gejala pada tajuk, baru tampak setelah timbulnya tandan buah. Mula-mula satu
daun muda berubah warna, dari ibu tulang daun keluar garis coklat kekuningan ke
tepi daun. Dalam jangka satu minggu semua daun menguning dan menjadi coklat.
Penularan atau infeksi dapat terjadi
melalui pelukaan mekanis dan penularan melalui serangga. Pada buah gejalanya
agak lambat.Umumnya buah hampir menyelesaikan proses pemasakan, kemudian tampak
seperti dipanggang berwarna kuning coklat, layu dan busuk. Buah yang
terserang isinya terlarut sedikit demi sedikit dan berisi cairan seperti lendir
berwarna merah kecoklatan yang mengandung sangat banyak bakteri.
Morfologi
dan Daur Penyakit
Inokulasi terjadi apabila bakteri masuk
ke dalam pembuluh tanaman yang mengalami pelukaan, atau melalui penularan oleh
serangga. Sedangkan inokulasi melalui batang jarang terjadi. Bakteri dapat
bertahan dalam tanah dan mempertahankan virulensinya selama paling sedikit satu
tahun.
Penyakit dapat menular melalui parang
yang digunakan waktu menebang pisang, membersihkan batang atau memotong bunga
jantan/anakan pisang. Penularan dapat terjadi juga karena pemakaian tunas dari
rumpun yang sakit sebagai bibit.
Penyakit juga dapat menular
melalui udara dan menginfeksi buah-buah yang dapat dilakukan oleh serangga.
Bakteri yang terbawa ke kepala putik pada saat pembuahan dapat mencapai buah
melalui saluran tangkai putik.
Dalam
tomat, layu bakteri pertama muncul sebagai keadaan normal dalam daun yang lebih
muda. Dalam kondisi lingkungan yang ideal, layu lengkap dan
cepat berkembang dengan stadium lanjut muncul dalam waktu dua sampai tiga hari
dan kematian tanaman segera mengikuti. Jika kondisi lingkungan tidak
optimal dan penyakit berkembang perlahan-lahan, daun epinasty mungkin terjadi,
dan akar adventif dapat muncul pada batang.
Ketika
dipotong, sistem vaskular batang awalnya muncul kuning atau cokelat
muda. Sebagai penyakit berlangsung, batang menjadi coklat
gelap, dan akhirnya empulur dan korteks menjadi coklat. Lesi
direndam air dapat muncul pada batang dalam hal invasi besar dari korteks.
Gambar.1. Penampang batang tomat Gambar.2. Tanaman tomat menunjukkan
menunjukkan sistem vaskular kecoklatan stadium lanjut penyakit layu bakteri.
menunjukkan sistem vaskular kecoklatan stadium lanjut penyakit layu bakteri.
Cara Pengendalian terhadap
Patogen
Cara kultur teknis
· Pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang)
·
Penjarangan anakan, dipotong (setelah 30 cm)
±5 cm dari titik tumbuh.
·
Rotasi dengan tanaman bukan inang
·
Pembuatan drainase, sanitasi lingkungan
pertanaman.
·
Menggunakan benih sehat (bukan dari daerah
serangan atau rumpun terserang, menggunakan benih dari kultur jaringan) atau
benih baru setiap musim tanam.
·
Sistem pindah tanam setelah tiga kali panen,
maksimal 3 tahun.
·
Pengapuran atau abu
Cara
fisik/mekanis
· Eradikasi rumpun terserang dengan membongkar
sampai ke akar-akarnya, lalu dipotong-potong, dimasukkan dalam kantong plastik,
diberi formalin, dan ditutup rapat. Dapat juga mematikan tanaman/anakan
terserang dengan injeksi herbisida 2,4 D 0,5% sebanyak 5 – 15
ml/tanaman.
· Memotong bunga jantan segera setelah sisir
terakhir terbentuk, untuk menghindari infeksi serangga penular.
·
Kondomisasi terhadap bunga
Cara
biologi
· Pemanfaatan agens antagonis seperti
Pseudomonas fluerescens, Bacillus subtilis. (Entomopatogen), dengan atau tanpa
kompos.
Cara
kimiawi
·
Semua alat yang digunakan didisinfektan
dengan kloroks (NaOCl) atau dicuci bersih dengan sabun.
· Injeksi larutan minyak tanah atau herbisida
sistemik terhadap tanaman sakit dan anakannya, sebanyak 5 – 15 ml/pohon
tergantung besar kecilnya tanaman. Injeksi ini dapat diulangi hingga tanaman
mati.
Strategi terbaik untuk mengendalikan
penyakit layu bakteri di lapangan terutama terdiri dari phytosanitation dan
budaya praktek. Di daerah di mana penyakit ini endemik, metode ini telah
terbukti efektif dalam beberapa kondisi, dan harus digunakan:
1. Sebelum perkebunan:
1. Sebelum perkebunan:
- Pertimbangkan pengendalian gulma yang efektif di dalam dan di sekitar ladang tomat dan pengendalian gulma air di sekitar kolam irigasi.
- Terapkan 3-4 tahun rotasi dan tanaman penutup untuk bidang penuh untuk mengurangi R. solanacearum, gulma dan nematoda.
- Jangan mengairi rotasi dan menutupi tanaman dengan R. solanacearum terkontaminasi kolam atau air permukaan, hindari reinfestasi.
- Gunakan baik bidang dikeringkan dan diratakan dan tidak menggunakan daerah dataran rendah dari lapangan.
- Meningkatkan pH tanah menjadi 7,5-7,6 dan meningkatkan kalsium tersedia (pengapuran).
- Pertimbangkan untuk menggunakan bidang penuh (setelah rotasi 3-4 tahun) selama musim dingin untuk produksi tomat (misalnya, musim semi untuk utara Florida).
2.
Selama produksi
- Singkirkan patogen dengan menerapkan praktek-praktek sanitasi yang ketat (patogen air bebas irigasi, transplantasi, taruhannya, mesin, dll).
- klorinasi air irigasi Anda terus menerus jika Anda menggunakan air permukaan atau R. solanacearum penuh air kolam.
- Lanjutkan pengendalian gulma yang efektif di dalam dan di sekitar ladang tomat dan kolam irigasi.
- Airi berdasarkan kebutuhan air, menghindari over irigasi.
- Terapkan tanaman induser ketahanan, seperti Actigard (Syngenta) jika Anda menggunakan kultivar agak tahan (yaitu, FL 7514).Actigard meningkatkan ketahanan terhadap penyakit ini jika digunakan dalam kombinasi dengan kultivar agak tahan.
3.
Setelah panen
· Bajak
bawah sisa tanaman segera.
· Mulailah
dengan rotasi yang sesuai dan tanaman penutup tanah (yaitu, rye untuk musim
dingin, sudan-sorgum untuk musim panas di utara Florida) untuk menghindari
gulma yang mendukung R. populasi solanacearum.
Nama : NIXON N.FALLO
Dosen PA : Ir. JENNY E.R.MARKUS,M.App.Sc
SUMBER :
anggi-arga.blogspot.com/2011/.../bab-i-pendahuluan-1.htm...
26
Mar 2011 – Gambar 3 Mikrografi bakteria R. solanacearum (Anonymous, 2010)
elibrary.ub.ac.id/.../patogenisitas-ralstonia-solanacearum-iso...
kusumadarma17.blogspot.com/.../identifikasi-keragaman-da...
lib.uin-malang.ac.id/thesis/.../05520026-shohihatud-diniyah...
hardiyanti1992.blogspot.com/.../pengendalian-ralstonia-sola...
repository.ipb.ac.id/bitstream/.../Bab%202%202008aey.pdf...
www.cals.ncsu.edu/.../Ralstonia/Ralst... - Terjemahkan laman ini
mikrokasi.blogspot.com/.../pseudomonas-solanacearum-pad...Bagikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar