Senin, 08 April 2013

dpt_kelompok11_opt2_Ralstoniumsolanacearum_tugas3



OPT KATEGORI PATOGEN
Oranisme Pengganggu Tumbuan (OPT) pada Tanaman Tomat
Ralstonia solanacearum
Nama Ilmiah   : Ralstonia solanacearum
Nama Umum   : Penyakit darah (oleh bakteri Pseudomonas sp. Nr solanacearum)
Nama Bahasa Indonesia  : Penyakit Layu bakteri (Penyakit Darah)
·                      Nama Bahasa Inggris       : Moko Desease
Klasifikasi dari ITIS atau GBIF Data Portal
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom         : Bakteri
Filum               : Proteobacteria
Kelas               : Beta Proteobacteria
Ordo               : Burkholderiales
Family             : Ralstoniaceae
Genus              : Ralstonia
Spesies            : Ralstonia solanacearum
Deskripsi Patogen
        R. solanacearum adalah spesies yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan oleh variabilitas genetiknya yang luas dan kemampuannya untuk beradaptasi dengan lingkungan setempat, sehingga di alam dijumpai berbagai strain R. solanacearum dengan ciri yang sangat beragam. Ditinjau dari segi morfologi dan fisiologinya, R. solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan ukuran 0,5-0,7 x 1,5-2,5 μm, berflagela, bersifat aerobik, tidak berkapsula, serta membentuk koloni berlendir berwarna putih (Tim Penulis Penebar Swadaya, 


2003 dalam Anonim, 2010). Bakteri ini menginfeksi akar tanaman melalui luka yang terjadi secara tidak langsung pada waktu proses pemindahan tanaman maupun luka akibat tusukan nematoda akar, dan secara langsung masuk ke dalam bulu akar/akar yang sangat muda dengan melarut dinding sel. Infeksi secara langsung lebih banyak terjadi jika populasi bakteri di tanah terdapat dalam jumlah yang tinggi (Semangun, 1988 dalam Anonim 2010). R. solanacearummerupakan patogen tular tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang (Sitepu dan Mogi 1996). Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup diduga sangat bergantung pada keberadaan tanaman inang.
       Ralstonia solanacearum menghasilkan polisakarida extraseluler (Extracelluler polysaccharide=EPS). Produksi EPS mempunyaiperanan penting dalampatogenisitas dan virulensi bakteri patogen tanaman. Senyawa ini mempengaruhi kondisi ruang natar sel dalam tanaman sehingga cocok untuk perkembangan bakteri.  Peranan EPS dalam infeksi patogen dan inang telah dilaporkan anatara lain: mencegah pengenalan bakteri pada tanaman inang, perubahan penggunaan karbohidrat dan membatasi pergerakan air. Bakteri ini juga mensekresikan enzim-enzim perombak dinding sel (termasuk poligalakturonase), tetapi enzim endoglukanase disekresikan 200 kali lebih banyak dibanding enzim-enzim tersebut. R. solanacearum juga menghasilkan zat pengatur tumbuh berupa IAA, ABA dan etilen (Abazar,2004).             
        Ralstonia solanacearum adalah salah satu bakteri patogen tumbuhan yang paling merugikan. Patogen ini meyebabkan penyakit pada lebih dari 200 spesies dalam lebih dari 50 famili tanaman terutama Solanaceae. Serangan patogen ini secara nyata dapat menurunkan produksi dan kualitas hasil. Bakeri ini tersebar di daerah tropik, sub tropik maupun temperate/dingin. Di daerah tropis patogen ini berkembang dengan subur karena keberadaan inang sepanjang tahun. Di daerah temperate dimana tanaman inang tidak selalu ada, patogen ini menjadi penting (terutama pada kentang) lebih karena status karantinanya bukan karena kerusakan yang ditimbulkannya.
        Ralstonia solanacearum adalah profil alien patogen tinggi tanaman status Karantina A2 mempengaruhi rentang yang sangat luas tanaman. Ini berarti bahwa itu hadir di beberapa bagian Eropa tetapi di bawah kontrol hukum. Di seluruh dunia, tanaman yang paling penting terkena adalah: Kentang, Tomat, Tembakau, Pisang dan Geranium. Di Inggris dan negara Eropa lainnya tanaman yang paling terkena adalah penting kentang dan tomat. Ini akan menyebabkan kerusakan ekonomi yang serius yang ia menjadi lebih mapan daripada saat ini. Kerugian disebabkan penurunan hasil aktual dan juga karena langkah-langkah yang diambil statutary untuk menghilangkan penyakit.
Gejala dan Tanda Penyakit
Gejala awal yang ditimbulkan pada tanaman yang terserang bakteri ini adalah tanaman mulai layu. Kemudian menjalar ke daun bagian bawah. Gejala yang lebih lanjut : seluruh tanaman layu, daum menguning sampai coklat kehitam-hitaman, dan akhirnya tanaman mati. Serangan pada umbi menimbulkan gejala dari luar tampak bercak-bercak kehitam-hitaman, terdapat lelehan putih keruh (massa bakteri) yang keluar dari mata tunas atau ujung stolon. Adanya daun muda pada pucuk dan daun tua tanaman akan menjadi layu, daun bagian bawah menguning merupakan ciri khas gejala penyakit layu bakteri.
Bakteri menyerang pembuluh batang melalui akar dan mengeluarkan zat beracun hingga pembuluh tersebut mengeluarkan cairan berwarna merah seperti kecap/darah. Apabila pada batang terdapat luka, maka cairan merah akan keluar melalui luka tersebut. Adakalanya cairan keluar bersamaan dengan keluarnya jantung pisang. Gejala pada tajuk, baru tampak setelah timbulnya tandan buah. Mula-mula satu daun muda berubah warna, dari ibu tulang daun keluar garis coklat kekuningan ke tepi daun. Dalam jangka satu minggu semua daun menguning dan menjadi coklat.
       Penularan atau infeksi dapat terjadi melalui pelukaan mekanis dan penularan melalui serangga. Pada buah gejalanya agak lambat.Umumnya buah hampir menyelesaikan proses pemasakan, kemudian tampak seperti dipanggang berwarna kuning coklat, layu dan  busuk. Buah yang terserang isinya terlarut sedikit demi sedikit dan berisi cairan seperti lendir berwarna merah kecoklatan yang mengandung sangat banyak bakteri.
Morfologi dan Daur Penyakit
     Inokulasi terjadi apabila bakteri masuk ke dalam pembuluh tanaman yang mengalami pelukaan, atau melalui penularan oleh serangga. Sedangkan inokulasi melalui batang jarang terjadi. Bakteri dapat bertahan dalam tanah dan mempertahankan virulensinya selama paling sedikit satu tahun.
      Penyakit dapat menular melalui parang yang digunakan waktu menebang pisang, membersihkan batang atau memotong bunga jantan/anakan pisang. Penularan dapat terjadi juga karena pemakaian tunas dari rumpun yang sakit sebagai bibit.
Penyakit juga dapat menular melalui udara dan menginfeksi buah-buah yang dapat dilakukan oleh serangga. Bakteri yang terbawa ke kepala putik pada saat pembuahan dapat mencapai buah melalui saluran tangkai putik.
     Dalam tomat, layu bakteri pertama muncul sebagai keadaan normal dalam daun yang lebih muda.   Dalam kondisi lingkungan yang ideal, layu lengkap dan cepat berkembang dengan stadium lanjut muncul dalam waktu dua sampai tiga hari dan kematian tanaman segera mengikuti.  Jika kondisi lingkungan tidak optimal dan penyakit berkembang perlahan-lahan, daun epinasty mungkin terjadi, dan akar adventif dapat muncul pada batang.  
       Ketika dipotong, sistem vaskular batang awalnya muncul kuning atau cokelat muda.   Sebagai penyakit berlangsung, batang menjadi coklat gelap, dan akhirnya empulur dan korteks menjadi coklat.   Lesi direndam air dapat muncul pada batang dalam hal invasi besar dari korteks.
                                   
   Gambar.1. Penampang batang tomat              Gambar.2. Tanaman tomat menunjukkan
  menunjukkan sistem vaskular kecoklatan         stadium  lanjut penyakit layu bakteri.  

Cara Pengendalian terhadap Patogen

Cara kultur teknis




·           Pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang)
·           Penjarangan anakan, dipotong (setelah 30 cm) ±5 cm dari titik tumbuh.
·           Rotasi dengan tanaman bukan inang
·           Pembuatan drainase, sanitasi lingkungan pertanaman.
·           Menghindari terjadinya luka pada akar.
·           Menggunakan benih sehat (bukan dari daerah serangan atau rumpun terserang, menggunakan benih dari kultur jaringan) atau benih baru setiap musim tanam.
·           Sistem pindah tanam setelah tiga kali panen, maksimal 3 tahun.
·           Pengapuran atau abu
Cara fisik/mekanis
·    Eradikasi rumpun terserang dengan membongkar sampai ke akar-akarnya, lalu dipotong-potong, dimasukkan dalam kantong plastik, diberi formalin, dan ditutup rapat. Dapat juga mematikan tanaman/anakan terserang dengan injeksi herbisida 2,4 D 0,5% sebanyak   5 – 15 ml/tanaman.
·     Memotong bunga jantan segera setelah sisir terakhir terbentuk, untuk menghindari infeksi serangga penular.
·           Kondomisasi terhadap bunga
Cara biologi
·     Pemanfaatan agens antagonis seperti Pseudomonas fluerescens, Bacillus subtilis. (Entomopatogen), dengan atau tanpa kompos.
Cara kimiawi
·           Semua alat yang digunakan didisinfektan dengan kloroks (NaOCl) atau dicuci bersih dengan sabun.
·         Injeksi larutan minyak tanah atau herbisida sistemik terhadap tanaman sakit dan anakannya, sebanyak 5 – 15 ml/pohon tergantung besar kecilnya tanaman. Injeksi ini dapat diulangi hingga tanaman mati.
    Strategi terbaik untuk mengendalikan penyakit layu bakteri di lapangan terutama terdiri dari phytosanitation dan budaya praktek. Di daerah di mana penyakit ini endemik, metode ini telah terbukti efektif dalam beberapa kondisi, dan harus digunakan:
1.    Sebelum perkebunan: 
  • Pertimbangkan pengendalian gulma yang efektif di dalam dan di sekitar ladang tomat dan pengendalian gulma air di sekitar kolam irigasi.
  • Terapkan 3-4 tahun rotasi dan tanaman penutup untuk bidang penuh untuk mengurangi R. solanacearum, gulma dan nematoda. 
  • Jangan mengairi rotasi dan menutupi tanaman dengan R. solanacearum terkontaminasi kolam atau air permukaan, hindari reinfestasi. 
  • Gunakan baik bidang dikeringkan dan diratakan dan tidak menggunakan daerah dataran rendah dari lapangan.
  • Meningkatkan pH tanah menjadi 7,5-7,6 dan meningkatkan kalsium tersedia (pengapuran).
  • Pertimbangkan untuk menggunakan bidang penuh (setelah rotasi 3-4 tahun) selama musim dingin untuk produksi tomat (misalnya, musim semi untuk utara Florida). 
2.        Selama produksi 
  • Singkirkan patogen dengan menerapkan praktek-praktek sanitasi yang ketat (patogen air bebas irigasi, transplantasi, taruhannya, mesin, dll). 
  • klorinasi air irigasi Anda terus menerus jika Anda menggunakan air permukaan atau R. solanacearum penuh air kolam. 
  • Lanjutkan pengendalian gulma yang efektif di dalam dan di sekitar ladang tomat dan kolam irigasi. 
  •  Airi berdasarkan kebutuhan air, menghindari over irigasi. 
  • Terapkan tanaman induser ketahanan, seperti Actigard (Syngenta) jika Anda menggunakan kultivar agak tahan (yaitu, FL 7514).Actigard meningkatkan ketahanan terhadap penyakit ini jika digunakan dalam kombinasi dengan kultivar agak tahan. 
3.        Setelah panen 
·      Bajak bawah sisa tanaman segera. 
·      Mulailah dengan rotasi yang sesuai dan tanaman penutup tanah (yaitu, rye untuk musim dingin, sudan-sorgum untuk musim panas di utara Florida) untuk menghindari gulma yang mendukung R. populasi solanacearum. 


Nama        : NIXON N.FALLO
Dosen PA  : Ir. JENNY E.R.MARKUS,M.App.Sc

SUMBER :

anggi-arga.blogspot.com/2011/.../bab-i-pendahuluan-1.htm...
26 Mar 2011 – Gambar 3 Mikrografi bakteria R. solanacearum (Anonymous, 2010)

elibrary.ub.ac.id/.../patogenisitas-ralstonia-solanacearum-iso...

kusumadarma17.blogspot.com/.../identifikasi-keragaman-da...

lib.uin-malang.ac.id/thesis/.../05520026-shohihatud-diniyah...

hardiyanti1992.blogspot.com/.../pengendalian-ralstonia-sola...

repository.ipb.ac.id/bitstream/.../Bab%202%202008aey.pdf...

www.cals.ncsu.edu/.../Ralstonia/Ralst... - Terjemahkan laman ini

mikrokasi.blogspot.com/.../pseudomonas-solanacearum-pad...Bagikan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar